"Pivot ke AI." Terdengar seksi, bukan? Terdengar seperti inovasi. Terdengar seperti masa depan yang cerah.
Tapi bagi ribuan insinyur perangkat lunak yang diusir keluar gedung sambil membawa kardus berisi tanaman mati, frasa itu terdengar seperti vonis hukuman mati. Fenomena ini nyata adanya, dan jurnalis bisnis global kini memberinya nama yang sangat pantas: AI-Washing.
Penipuan Narasi Massal
Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kaca gedung pencakar langit San Francisco atau SCBD Jakarta? Sederhana saja: Penipuan narasi massal.
Laporan investigasi mendalam dari New York Times hingga TechCrunch mulai mengendus bau busuk ini sejak Kuartal 3 tahun lalu. Perusahaan teknologi raksasa—sebut saja Google, Microsoft, hingga pemain SaaS awan seperti Salesforce dan Zoom—beramai-ramai mengumumkan PHK massal (Layoffs) dengan dalih klise: "efisiensi berbasis kecerdasan buatan".
Tapi statistik menolak untuk berbohong. Apakah GitHub Copilot benar-benar menggantikan 12.000 pekerjaan desainer grafis dan penulis UX dalam semalam? Mustahil. Kecuali AI itu bisa menyeduh kopi pahit dan menahan revisi klien yang cerewet tanpa mengeluh.
Permainan Sulap Wall Street
Kebenaran pahitnya? Ini adalah permainan sulap panggung untuk Wall Street. Di mata pemegang saham (Shareholders) di indeks NASDAQ atau S&P 500, kata "Generative AI" adalah mantra ajaib pengubah nasib.
Matematikanya kejam: Jika CEO bilang "kami memecat orang karena salah strategi bisnis", harga saham akan terjun bebas ke jurang. Tapi coba ubah kalimatnya menjadi: "Kami melakukan realokasi sumber daya strategis menuju Infrastruktur AI-First."
Boom! Harga saham melompat naik 5% di sesi pra-pembukaan pasar. Margin EBITDA aman terkendali. Bonus eksekutif akhir tahun cair. Manusia? Ah, mereka cuma angka statistik di kolom operating expense Excel.
Mitos "Full Automation"
Mari kita bicara tentang mitos "Full Automation". Banyak eksekutif yang tertipu demo OpenAI SORA atau Google Gemini, mengira mereka bisa menggantikan seluruh departemen kreatif.
Faktanya? AI masih berhalusinasi. AI masih bias. Siapa yang membereskan kekacauan itu? Manusia. Kita menyebutnya "Human in the Loop".
Ironisnya, setelah PHK massal, banyak perusahaan ini diam-diam merekrut kembali karyawan yang dipecat sebagai "kontraktor lepas" dengan gaji lebih rendah untuk melatih AI yang konon menggantikan mereka.
Fenomena "Ghost Jobs"
Dan jangan lupakan fenomena "Ghost Jobs" yang memperburuk keadaan. Setelah memecat ribuan orang, perusahaan ini sering kali tetap memajang lowongan kerja di portal seperti Kalibrr atau JobStreet.
Untuk apa? Untuk memberi sinyal palsu kepada investor bahwa mereka masih bertumbuh. Padahal lowongan itu fiktif. Tidak ada yang akan direkrut. Ini adalah teater korporat level tertinggi yang mempermainkan harapan para pencari kerja yang putus asa.
Dampak di Indonesia: Zombie Startups
Di ekosistem Indonesia, dampaknya mulai merambat bagai kanker stadium lanjut. Kita baru saja melihat Startup Bubble Burst (pecahnya gelembung startup) yang belum sembuh lukanya, kini ditambah paranoia baru.
Fenomena "Zombie Startups" bermunculan—perusahaan yang membakar uang untuk membeli GPU Nvidia H100 demi FOMO, sementara jatah kopi karyawan dipangkas. Pekerja kreatif dan IT di-gaslight habis-habisan untuk percaya bahwa mereka tidak lagi relevan di pasar kerja.
"Belajarlah prompt engineering atau kau akan mati!" teriak para influencer LinkedIn yang tidak punya hati nurani. Padahal, realitas di lapangan adalah efisiensi brutal demi menyelamatkan Runway (sisa uang kas) yang makin menipis.
Profesor ekonomi dari Stanford bahkan menyebut ini sebagai "Copycat Layoffs"—ikut-ikutan memecat karena sedang tren. Sangat ironis, bukan? Kita mati-matian menciptakan teknologi untuk membebaskan manusia dari pekerjaan kasar, tapi korporasi justru menggunakannya untuk membebaskan manusia dari gaji bulanan mereka.
Jadi, sebelum Anda merasa insecure karena ChatGPT atau Claude mengambil alih, ingatlah satu hal: yang memecat Anda bukan algoritma canggih dengan IQ 150. Yang memecat Anda adalah keserakahan kuno yang memakai topeng teknologi futuristik.



